HOBI : RUMBEL LITERASI (FIKSI MINI)[621]

Akad Nikah

Oleh. Dian Permatasari


Suara gaduh dari lantai satu membangunkanku. Semalam, mataku sulit menutup, banyak pikiran bersiliweran di kepala. Aku tidak tau jam berapa akhirnya tertidur, hingga suara-suara itu tertangkap pendengaran. Sepertinya, penghuni lain sudah mulai sibuk. Ada nenek, paman dan tante beserta keluarganya di sini.


Umurku 27 tahun pada bulan Oktober ini. Semua orang gusar dan selalu menghantuiku dengan pertanyaan kapan aku menikah.


Jujur saja, aku lelah. Siapa yang tidak ingin menyempurnakan separuh agama. Aku juga tidak ingin hidup sendiri selamanya.


Bukannya tidak ada yang mendekatiku, tapi sulit bagiku untuk percaya setelah bertahun-tahun menyaksikan bagaimana Ayah memperlakukan Ibu. Salah sedikit, tangannya bisa mendarat di pipi Ibu. Seringkali aku dan adikku menangis, lalu menjerit memohon kepada Ayah untuk berhenti. Trauma itu selalu membayangiku. Sehingga sulit bagiku membuka hati.


Namun itu dulu. Hari ini, hari yang ditunggu-tunggu oleh semua sanak saudara, terlebih aku. Hari yang sungguh istimewa.


Kulihat kebaya berwarna putih gading tergantung menawan di kamarku. Di sebelahnya ada kain batik bermotif sida. Katanya, orang yang mengenakan batik tersebut, berharap bisa lebih bijaksana saat hidup bersama. Sehingga berbagai permasalahan dapat dilewati dengan tabah dan lancar.


Aku bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke arah jendela kamar. Tampak taman belakang rumah, sudah tersusun rapi, kursi-kursi yang dihiasi bunga. Nuansa monokrom dipadukan dengan dekorasi bunga, terlihat begitu elegan. Pesta taman, impianku sejak dulu. Aku ingin suasana hangat dan dekat. Cukup tamu dari teman dekat dan keluarga saja, tidak perlu beramai-ramai.


Sungguh aku tidak menyangka hari ini akan datang. Begitu banyak tantangan yang harus dihadapi. Ada penolakan dari kedua belah pihak keluarga pada awalnya, tapi syukurlah akhirnya ada titik temu. Segala sesuatu yang kita usahakan dengan segenap tenaga, akan membuahkan hasil. Ya, seperti hari ini.


Gedoran pintu kamar menyentakku dari lamunan. Terdengar suara ibu memanggil namaku cukup kencang. Buru-buru kuberjalan menuju pintu.


"Ya ampun … kamu belum bersiap-siap dari tadi? Ngapain aja Nona? Om Tomi dan keluarganya sudah di perjalanan. Ibu gak mau lihat kamu berantakan begini di hari bahagia Ibu," omel Ibu.


"Iya Bu, ini juga mau siap-siap," jawabku pelan, lalu berjalan mengambil handuk.


◆◆◆


Maaf

Oleh. Fauzia Rifany


Akhir-akhir ini, aku sering dapat teror dari ... katakanlah teman tapi mesra saat kuliah dulu.


Namun, pertemanan kami berakhir konflik.


Sedikit menurutku.


Berawal dia mengirimiku dirrect message di akun instagram. Sekedar say hallo, ya kubalas dengan datar.


Selanjutnya dia mulai bertanya kegiatan keseharianku, tapi karena kutahu pak suami seseorang yang over jealous, maka kubalas dengan bertanya, "Ada yang bisa kubantu?"


Balasannya begitu santai, "Aku mau bertemu denganmu."


Tetapi tidak santai bagiku. Yang benar saja, chat begini saja doi bakal ngamuk, apalagi bertemu. Maka, aku menolak ajakkannya.


Ternyata, dia begitu cerewet atau gigih ingin bertemu. Padahal, dia sendiri sudah memiliki dua orang anak dan seorang istri yang cantik. Tentunya, tidak mengalahi kecantikkanku.


Hingga sekarang dua pekan berlalu. Nomornya kublokir. Sehari, dua hari, aku mulai tenang. Hari ke tiga, sebuah nomor baru masuk.


"Jangan menghindar. Aku bisa saja mendatangi rumahmu," ancamnya.


Pada akhirnya, aku nekat bertemu dengannya. Tentunya saat suami sedang di kantor.


Kami bertemu di alun-alun. Aku yang memilih tempat itu, tidak ingin mengambil resiko.


Dari kejauhan, terlihat dia sudah tersenyum lebar menatapku. Bahkan, dia masih mengenaliku setelah sekian tahun tak bertemu.


Jangan tanya bagaimana gemuruh di dadaku. Bukan karena masih ada rasa, tapi takut jika ketahuan suami, juga terngiang kata-katanya kemarin. 'Saat ini, aku sangat membutuhkanmu.'


"Hei, akhirnya kita ketemu lagi," sapanya semringah.


"Ada apa, sih? Buruan,"


"Gak lepas kangen dulu, nih?"


"Aku pulang." Aku segera berbalik yang langsung ditahannya.


"Oke, oke. Gini, maaf aku ... mau minta semua uang yang pernah kukasih ke kamu dulu," ungkapnya malu-malu melebihi katakan cinta.


Aku menatapnya tidak percaya.


"Terserah kamu mau bilang apa. Tapi, aku butuh uang untuk hadiah istriku. Bisa?"


Antara ingin marah dan ketawa aku, tuh. Ada cowok gini?


◆◆◆