Perempuan dan Peran
Penulis: Mona Melisa
Sebagian kalangan masyarakat masih beredar stigma tentang perempuan yang hanya berkaitan dengan kasur, sumur, dan dapur. Perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi. Tidak perlu menjadi orang yang cerdas. Toh, nanti akan di rumah saja.
Kegalauan perempuan hari ini, mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karir. Padahal kedua hal itu tak perlu dibenturkan. Menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir sama mulianya, asalkan peran kita sebagai istri dan ibu tertunaikan dengan baik.
Tidak ada yang menjamin kita sebagai ibu rumah tangga lebih baik dalam menjalankan peran sebagai istri dan ibu dibanding perempuan yang berkarir. Semuanya kembali lagi kepada diri sendiri. Bagaimana ia meningkatkan kualitas diri selama single, sehingga siap ketika memang sudah waktunya menjalankan peran.
Kelembutan, kasih sayang adalah fitrah yang dimiliki oleh perempuan. Itulah kenapa seorang ibu tidak pernah lelah menggendong anaknya. Tangannya selalu kuat, karena ibu menggendong bukan kekuatannya tapi dengan kasih sayangnya.
Itulah kenapa ibu menjadi madrasah utama, karena perempuan sejatinya punya fitrah kesabaran yang lebih luas daripada laki-laki. Di pundaknya Allah berikan pundak yang lebih kuat dalam mendidik anak-anaknya. Fitrah-fitrah itu yang perlu diasah sebagai perempuan agar saat menjalani peran tidak gamang.
Perempuan sibuk mempercantik yang terlihat dari luar, tapi lupa mempercantik dari dalam. Lupa mempercatik ilmunya, mempercantik akhlaknya, mempercantik skillnya. Standar cantik yang society terkadang membuat perempuan tidak percaya diri jika tidak memenuhi standar itu. Putih, tinggi, rambut panjang, langsing dan seterusnya. Kita sibuk menjadi seperti itu, padahal standar itu hanyalah standar ciptaan manusia.
Perempuan adalah penentu peradaban. Disaat peran yang ia emban begitu besar, lantas kenapa perempuan hari ini banyak bingung? Kenapa perempuan banyak menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak penting? Kenapa perempuan hari ini banyak gagap menjalani perannya?
Sangat perlu mendoktrin diri, bahwa kita tidak boleh malas untuk mempersiapkan jiwa dan raga. Jika sudah mengikhtiarkan diri dengan baik, maka akan lebih mudah dalam mencapai mimpi, bukan?
Banyak yang bertanya, kapan waktu yang tepat untuk persiapan? Sekarang. Waktu yang tepat adalah sekarang, dari dirimu sendiri, dimulai dari yang sederhana. Banyak cara yang bisa dilakukan dalam tahap persiapan diri. Seperti mengikuti kelas pengembangan diri, kelas parenting, kelas kesehatan, membaca buku, tergabun dalam organisasi/komunitas yang positif.
Perempuan dan peran adalah dua hal yang tak terpisahkan. Ketika kita mendengar kata perempuan, yang terbesit di kepala seharusnya adalah tentang peran yang begitu besar. Seringkali kita sendiri yang mengecilkan diri. Perempuan sendiri yang mendiskreditkan tentang dirinya, padahal Bung Karno bilang, “Jika dalam suatu negeri itu perempuannya baik, maka baik pulalah negerinya. Jika negeri itu perempuannya bobrok, maka bobrok pulalah negerinya”.
So, yuk mulai meningkatkan kualitas diri kita hari ini.