Spotlight ; Psikologi - GRATITUDE WRITING THERAPY (602)

MENJAGA KESELARASAN JIWA DENGAN GRATITUDE WRITING THERAPY

 

Dewasa ini, semakin banyak sekali persoalan yang timbul dalam keseharian kita. Sebagai seorang wanita yang memiliki multi peran, menjadi seorang istri, ibu untuk anak-anak, sekaligus anak untuk orang tua kita, membuat ketidakstabilan peran tersebut menjadi beban psikis tersendiri.

Beban-beban tersebut seringkali terpendam, sehingga pada masanya membuat emosi naik turun, mood swing, dan lebih parahnya pelampiasan dari tumpukan beban-beban tersebut kepada orang terdekat dan paling lemah. Siapa lagi jika bukan anak-anak.

Emosi dan jiwa dapat mengalami ketidakseimbangan, karena tak semua orang memiliki kemampuan yang baik dalam menangani peristiwa-peristiwa tak menyenangkan tersebut.

Menurut paparan sebuah artikel di laman Positive Psychology, apa yang harus kita lakukan dalam saat-saat yang berat adalah untuk mencapai kembali keseimbangan. Ini penting agar kondisi emosi kembali stabil, dan tidak terpuruk makin dalam, yang pada gilirannya dapat mengarah pada gangguan kejiwaan.

Hal tersebut sangat rentan terjadi, karena kurangnya media aktualisasi, ketidakseimbangan peran, bahkan komunikasi yang kurang efektif. Minimnya dukungan satu sama lain antara keluarga, bahkan ketidaktahuan diri sendiri, bahwa sampah-sampah emosi yang menumpuk memberikan efek negatif terhadap kehidupan sehari-hari.

Sangatlah perlu wadah aktualisasi diri untuk lebih mengurangi tumpukan sampah emosi, seperti mengembangkan bakat, hobi, sarana berkumpul dengan komunitas yang sesuai minat, bahkan olahraga pun bisa menekan mengurangi tekanan-tekanan yang ada.

Selain itu, manusia juga butuh wadah untuk meluapkan emosi-emosi negatif yang menumpuk tersebut. Salah satunya adalah dengan "gratitude writing therapy" atau therapeutic writing. Seperti namanya, yaitu menulis sebagai media terapi psikologis. Meluapkan sampah-sampah emosi dengan menuliskannya di sebuah buku diary atau jurnal keseharian kita.

Terapi menulis ini bisa menjadi sarana menulis bebas seolah kita sedang menulis di buku harian. Meluapkan sumpah serapah, menulis kejadian, bahkan tempat dan nama pun bisa ditulis. Karena prinsipnya, menulis ini bukan untuk orang lain melainkan untuk diri kita sendiri. Setelah menuliskan semua yang dirasakan, kemudian kita bisa menganalisa mengambil bagian-bagian positif dari hal-hal yang diceritakan, untuk kemudian kita syukuri. Sehingga, terapi ini membuat kita memandang segala sesuatu dari dua arah yang berbeda.

Terapi menulis rasa syukur atau gratitude writing therapy sendiri sudah lama dikenal dan dipraktikkan oleh para pakar kejiwaan dalam terapi penyembuhan. Menulis menjadi metoda alternatif selain dengan penceritaan secara verbal oleh pasien. Istilah kerennya adalah therapeutic gratitude writing.

Gratitude (rasa syukur). Rasa syukur diartikan sebagai rasa syukur dan menerima secara positif pengalaman yang dialami seseorang sehingga berdampak positif pada kehidupan sehari-hari (Kashdan, Uswatte, & Julian, 2006). Beberapa penelitian menyatakan bahwa individu yang merasa bersyukur terhadap kehidupannya, dan menunjukkan rasa penghargaan memiliki kebahagiaan yang lebih tinggi (Larsen, 2008). Individu yang menunjukkan rasa syukur dan penghargaan memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dari pada mereka yang tidak menunjukkan hal tersebut.

Hasil penelitian oleh Nanthamongkolchai, et.al. (2009) sangat signifikan, karena 91,4% responden penelitian yang terdiri dari perempuan mengungkapkan tentang tiga faktor yang mempengaruhi kebahagiaan yaitu, self esteem, social support, hubungan dengan keluarga. Selain komunkasi yang baik, salah satu indikator hubungan yang baik dengan keluarga mencakup penerimaan terhadap apapun yang terjadi dengan keluarga mereka.

Hasil penelitian tersebut juga dipertegas oleh Seligman dkk. (2005) yang melakukan penelitian pada subjek remaja dan dewasa dengan depresi ringan dan sedang. Hasil penelitian yang dilakukan mereka menyatakan bahwa salah satu indikator yang menyebabkan berkurangnya depresi dan meningkatkan kebahagiaan adalah individu dengan rasa syukur yang tinggi.

Bersyukur terhadap pengalaman hidup berdampak positif pada perilaku yang dimunculkan individu. Individu yang mampu bersyukur atas pengalaman hidupnya, baik pengalaman positif atau negatif lebih menunjukkan perilaku positif daripada mereka yang tidak melakukan hal tersebut (McCullough, Tsang & Emmons, 2004).

Kebersyukuran muncul dari dalam diri individu dan tercermin dalam pola pikir dan perilaku individu sehari-hari. Perlu dilakukan latihan dan pembiasaan bersyukur guna meningkatkan kebahagiaan. Salah satu caranya adalah dengan menulis jurnal atau diary kebersyukuran dengan metode gratitude writing therapy.