Apa kiat-kiat menemani anak belajar?
Uni dan suami termasuk tipikal orang tua yang "longgar" dalam masalah belajar anak-anak. Kami tidak pernah memberikan les tambahan untuk pelajaran sekolah anak, kecuali yang memang diwajibkan di sekolah.
Di rumah pun, Uni cuma mengontrol kalau ada PR atau tugas dari sekolah. Mereka diharapkan bisa mengerjakan sendiri, Uni hanya mendampingi mereka. Mau ujian pun kami di rumah meminta anak-anak mengerjakan sendiri latihan-latihan soal yang diberikan sekolah. Alhamdulillah nilai anak-anak selama ini masih termasuk sepuluh besar di kelasnya, dan ada yang bisa jadi pemuncak kelas.
Bagi kami, yang penting mereka happy menjalani prosesnya, tidak merasa terbebani dan melakukannya dengan senang hati. Selalu ada waktu untuk bermain, menyalurkan energi dan melatih fisiknya.
Begitu juga proses mereka belajar membaca, menulis dan berhitung sebelum masuk sekolah, kami melakukan sambil bermain. Mengenalkan huruf lewat judul-judul berita di koran atau di papan iklan kalau dalam perjalanan, sambil mengejanya.
Jika sudah kenal dengan huruf, kami meminta mereka menulisnya di dinding-dinding rumah yang sudah dilapisi dengan kertas manila, jika mereka tidak mau menulis di papan tulis. Untuk berhitung, bisa dengan meminta tolong mereka mengambilkan bumbu dan bahan masakan sewaktu kita memasak, atau menghitung kain sewaktu mencuci dan menggosok.
Untuk situasi sekarang, dimana anak-anak memang full belajar di rumah, yang bisa kita lakukan adalah :
1. Menyediakan tempat yang khusus untuk belajar. Walau cuma sesudut ruangan dengan meja lipat dan karpet yang nyaman. Perlu diperhatikan, cukup pencahayaan dan ada tempat coret-coret
2. Ada jadwal yang pasti dan disiplin menjalankannya.
3. Fokus saat mendampingi anak belajar. Jangan nyambi dnegan pegang gadget atau melakukan urusan pekerjaan kita. Karena dengan ini, anak juga belajar fokus dan memanfaatkan waktu dengan berkualitas.
4. Bantu anak untuk paham dengan materi pelajaran, tidak hanya sekedar tahu. Agar bisa mengingat jangka panjang, ajak anak membaca terlebih dahulu, dan suruh menceritakan lagi. Kita bisa pura-pura tidak tahu tentang materi itu.
5. Jangan memaksa anak. Tidak memberi tekanan dengan menyuruh belajar terus menerus. Jika anak mulai tampak bosan atau lelah, biarkan mereka istirahat atau bermain. Kegiatan ini memang butuh kesabaran yang dalam. Lihat juga kemampuan dan ketertarikan anak, maklumi jika mereka melakukan kesalahan.
6. Hindari mengerjakan tugas anak. Karena akan membuat anak tidak mandiri dan malas, serta kecerdasannya tidak terasah dengan baik. Jangan langsung membantu, ajak berpikir untuk mencari jawaban dan menerima konsekuensi atas jawabannya.
7. Menjadikan anak pembelajar mandiri. Paham apa yang dipelajarinya, orang tua mendukung dan memfasilitasi.
8. Buat anak merasa nyaman dan diperhatikan. Waktu belajar tersebut akan menjadi sebuah proses untuk anak belajar bertanggung jawab sesuai usia.
9. Kenali gaya belajar anak. Ada yang gampang menguasai dengan membaca, ada yang efektif mendengar penjelasan, atau melihat secara visual. Ada juga yang mudah memahami dengan praktek langsung.
10. Sesuaikan kondisi dan usia. Daya konsentrasi anak berbanding lurus dengan usianya. Semakin kecil usianya, semakin pendek lama konsentrasinya. Waktu belajar kalau bisa jangan terlalu malam, agar anak cukup tidur malam yang sangat mereka butuhkan untuk suplai energi besok harinya.
11. Ada kontrak dalam belajar (lama belajar, target yang ingin dicapai). Berikan sanksi kalau dia tidak memenuhinya dan beri hadiah kalau bisa mencapai target atau melewatinya.
Penting bagi kita sebagai ibu, selesaikan terlebih dahulu urusan kita. Baik tugas domestik maupun publik, dan juga urusan emosi agar bisa punya stok kesabaran untuk mendampingi anak-anak kita belajar dengan bahagia. Ibu yang bahagia akan menularkan kebahagiaan kepada suami dan anak-anaknya.