Intermezzo: Resensi Buku (299)

Review Buku 30 Paspor: The Peacekeepers' Journey

Penulis: J.S. Khairen

Penerbit: Noura, 2017


Pernahkah Uni membaca pesan berantai dari Prof. Rhenald Kasali, seorang Guru Besar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang menganjurkan supaya orang tua, tidak melulu memfasilitasi segala hal yang dibutuhkan oleh anak, melainkan sebaiknya mendorong anak untuk belajar mandiri dari alam sekitarnya? Ternyata, hal ini sendiri Beliau terapkan di salah satu kelas yang beliau ampu, yaitu kelas Pemasaran Internasional. Para mahasiswa di kelas ini ditugaskan untuk menyiapkan paspor lalu terbang ke luar negeri seorang diri untuk menaklukkan rasa takut mereka.

Buku berjudul 30 Paspor: The Peacekeepers' Journey ini disusun oleh J.S. Khairen, asisten dari Prof. Rhenald, berdasarkan kisah dari puluhan mahasiswa yang telah menuntaskan misi berkelana seorang diri di negara asing.

Tantangan sebelum keberangkatan, baik itu dari orang tua maupun dari dalam diri mereka sendiri, serta persoalan yang mereka hadapi selama di perjalanan, dikupas dengan rinci ditiap bab dalam buku ini. Membaca buku ini, Uni bisa ikut merasakan emosi yang mereka rasakan.

Bertemu Lady Boy di Thailand, menjadi kasir di Tsukiji Market di Jepang, mengalami tourist trap di Maroko, hingga patah hati di Nepal adalah beberapa kisah yang dapat ditemui dalam buku ini.

Karena kisah-kisah yang dituliskan dalam buku ini berasal dari pengalaman orang yang berbeda, maka kesan yang kita tangkap dari setiap kisah pun akan berbeda pula.

Ada beberapa cerita yang bagi saya-pengulas buku sangat menyentuh, jenaka, maupun inspiratif, tetapi ada pula yang terkesan sepi makna.

Semuanya kembali pada sudut pandang si pemilik cerita. Ada yang melihat perjalanannya sebagai kesempatan untuk mempelajari budaya asing, berbaur dengan lingkungan baru, serta menambah kawan.

Ada pula yang lebih suka menyendiri dan merenung sepanjang perjalanan. Bagi saya yang biasa membaca buku traveling Trinity, tipe terakhir ini kurang menarik karena minim interaksi dengan masyarakat setempat. Namun, saya yakin buku setebal 355 halaman ini dapat memotivasi banyak muda-mudi untuk berani bergerak, keluar dari zona nyamannya.

Oleh: Puti Annisa Utari