[DD] Cerpen Keroyokan (Belum Ada Judul)

"Siapa? Siapa lagi sekarang?"

"Itu, pangeran bungsu dari Kerajaan Riibia."

"Yang terkenal sangat gagah dan tak terkalahkan itu?"

"Yang wilayah kekuasaannya terbentang dari Pegunungan Moose hingga Semenanjung Menrell?"

"Betul, betul, yang itu!"

"Apa dia akan berhasil, ya?"

"Kita lihat saja ...."

Beberapa pengawal dan dayang istana Kerajaan Anantessa, berkerumun secara sembunyi-sembunyi di balik tiang-tiang teras istana. Mereka saling berbisik sambil mengamati pintu masuk menuju aula singgasana Raja dari jauh.

"Ssst ... diam! Diam! Ada yang keluar!"

Pintu emas besar itupun terbuka. Para pengawal dan dayang tergopoh-gopoh berjalan ke pos mereka masing-masing. Tentu saja sambil tetap memasang telinga, mendengarkan.

Tampak sosok tampan bertubuh kekar keluar dari balik pintu. Pria dengan setelan hitam mewah berkilau itu adalah salah satu bujangan paling didambakan oleh para wanita, baik tua maupun muda, di seantero negeri. Namun, apakah ia berhasil menaklukkan hati putri mahkota Kerajaan Anantessa ini?

"Mari kita pulang!" ujar penasihat Kerajaan Riibia yang muncul di belakangnya sambil menepuk pelan pundak sang pangeran. "Masih ada putri-putri cantik lainnya di luar sana, Yang Mulia."

Sang pangeran menghembuskan nafas pelan. Ia pun berjalan gontai menuju luar istana, diiringi oleh rombongannya. Punggungnya yang tadinya tegak, kini tertunduk lesu, tak berdaya.

"Apa? Ditolak lagi?"

“Bagaimana mungkin?"

“Bukankah ini sudah pinangan yang ke sebelas?”

Para pengawal dan dayang istana heboh saling bertanya satu sama lain. Menanyakan mengapa putri mahkota kerajaan mereka yang sudah menginjak usia 25 tahun itu, belum juga menerima satupun pinangan dari pangeran-pangeran kerajaan tetangga. Padahal kondisi kesehatan raja sendiri tidak lagi prima. Dalam waktu dekat, putri mahkota diharapkan dapat segera naik tahta menggantikan ayahnya. Tentu saja, syaratnya adalah dengan memiliki suami terlebih dulu.

Apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan? Atau ... siapa sebenarnya yang ia pikirkan?

***

Sofija tersentak dengan badan basah penuh keringat.

"Ya Allah, mimpi buruk lagi."

“Dialah Allah, Allah Tuhanku. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kemarahan-Nya, keburukan hukuman-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari godaan setan serta aku berlindung kepada-Nya dari kepungan setan itu."

Tak terasa air mata jatuh membasahi pipi Sofija selama menggumamkan doa mimpi buruk. Sejak lamaran demi lamaran yang datang namun semuanya berakhir dengan penolakan, hidup Sofija menjadi tidak tenang. Hampir setiap malam dia harus mengalami mimpi-mimpi yang aneh.

'Ah, penolakan itu ....' batin Sofija. 'Apa yang  harus aku lakukan sekarang? Ayah sakit-sakitan, sedangkan aku tidak bisa menerima pinangan.'

Sofija menghapus air mata yang sedari tadi membanjiri pipi cantiknya. Dia ingin menghirup udara segar sejenak. Dia lelah memikirkan semua ini.

Sang Putri melangkah pelan meninggalkan istana. Dia tidak ingin diikuti satu pun pengawal untuk saat ini. Ingin sendiri, menenangkan pikirannya yang sedang kalut.

Gadis berhijab marun itu terus melangkah dan berhenti di tepian sungai saat malam semakin larut.

"Tuan Putri, apa yang engkau lakukan di sini seorang diri?"

Sofija terkejut mendengar ada laki-laki yang menyapanya. Gadis itu mundur dan mencari sesuatu untuk melindungi dirinya. Sementara laki-laki tampan yang baru saja menyapanya, tersenyum mendekat.

"Kamu siapa?"

"Hamba Kim Xander. Kenapa tuan Putri begitu kalut? Ada yang bisa hamba bantu?"

Seperti terhipnotis oleh tatapan Kim yang begitu menenangkan, Sofija menceritakan semuanya. Tentang ia yang memasuki hutan terlarang Jorseville ketika sedang melatih kuda kebanggaannya. Mitosnya, siapa saja yang memasuki hutan terlarang itu, akan dikutuk tertidur sepanjang umur jika tidak segera menemukan penawarnya. Untuk Sofija, ia harus menemukan laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengan kanannya. Sudah sebelas orang laki-laki yang datang dan tidak ada yang memiliki tanda lahir itu.

Perlahan, Kim Xander mengulurkan tangan kanannya. Tampaklah tanda lahir di sana. Sofija tersentak, terbangun dari mimpinya. Masih dengan nafas yang memburu, sang Putri menatap ke sekeliling, ternyata ia tidak sedang berada di tepi sungai.

Sofija termenung di tempat tidurnya. "Kenapa mimpi kali ini terasa begitu nyata? Apa mungkin ini pertanda aku akan menemukan penawarnya?" gumamnya.

"Tanda lahir itu terdapat pada dua orang, dari golongan istana dan luar istana. Salah satunya bisa menyelamatkan kerajaan dan rakyatmu. Satunya lagi bisa menyelamatkan dirimu. Namun, kau tidak bisa peroleh keduanya.”

Pesan seorang peramal yang sempat mengganggu pikiran Sofija dulu, kembali teringat. "Apa sebenarnya maksud peramal itu? Kerajaan dan diriku tidak ada masalah apa pun. Mengapa harus diselamatkan?"

Sofija tidak ingin mempercayai seorang peramal, bukankah itu syirik? 'Lebih baik aku memilih mengikuti kata hatiku, bedebah dengan tanda lahir!'

"Tuan Putri, baginda Raja meminta Tuan Putri untuk ke ruangannya segera.” Dayang Biyu membuyarkan lamunan Sofija.

"Ada apa, Ayahanda?" tanya sang Putri setelah sampai di hadapan baginda Raja.

Sejenak sang ayah menatap buah hatinya, lalu menghembuskan nafas lelah. "Nak, ayah tidak akan menanyakan alasan penolakanmu. Ayah hanya ingin kau raih bahagiamu, itu sudah cukup bagiku."

***

Di sudut lain di luar istana kerajaan Anantessa, seorang lelaki muda tampak bersiap hendak memulai hari.

Lelaki berkulit gelap yang bermata teduh itu, melangkahkan kakinya ke pondok pandai besi Tuan Mahmed, tempat dimana ia bekerja sebagai penempa besi.

Jian, nama lelaki tersebut, mulai mengambil palu dan baja yang hendak dibentuknya menjadi tapal kuda. Pagi itu Jian masih seorang diri, belum tampak kehadiran Tuan Mahmed, penempa besi ternama yang hasil karyanya selalu dicari banyak orang.

Tanda berbentuk bulan sabit di lengan kekarnya tampak mencolok saat ia mulai mengayunkan palu ke baja. Tiba-tiba ia mendengar suara Tuan Mahmed di belakang pondok. Sepertinya ia sedang bercakap dengan seseorang, namun terdengar nada cemas dari suaranya.

"Apa?? D-dua puluh pedang? Tapi belum ada surat resmi dari istana untuk memintaku membuatkan pedang." Suara Tuan Mahmed.

"Kau tidak perlu banyak tanya. Yang penting kau buatkan saja 20 pedang itu dalam sebulan ini." jawab suara tegas seorang laki-laki.

"T-tapi, apakah Panglima Bachdim tahu akan hal ini? Aku tidak ingin terkena masalah." Suara Tuan Mahmed semakin terdengar khawatir.

"Ah, sudah! Yang penting 30 hari lagi aku akan kembali ke sini mengambil pedang-pedang itu! Ingat, tidak ada seorangpun yang boleh tahu mengenai hal ini. Mengerti?!" Tegas terdengar dari lawan bicaranya.

"Anak-anakmu masih kecil. Mereka pastinya masih membutuhkan ayah mereka, bukan?!" sambung lelaki itu yang terdengar sarat ancaman.

Kemudian suasana hening dan terdengar suara langkah sepatu yang berjalan menjauh. Tuan Mahmed masuk ke dalam pondok dengan muka pias dan ketakutan. Ia semakin terkejut saat melihat Jian ada di pondok itu, sedang menatap bingung kepadanya.

"Tuan Mahmed, Anda tidak apa-apa?" tanya Jian khawatir.

"Bukankah itu wakil panglima kerajaan, tuan Gorka? Kenapa ia butuh banyak pedang dalam waktu cepat?" selidik Jian lagi.

Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan. Sebab, tersiar kabar bahwa Wakil Panglima Gorka tidak puas dengan tiap keputusan yang dikeluarkan oleh raja. Apalagi saat raja mulai sering sakit-sakitan, banyak tindak tanduk Gorka yang mencurigakan.

Tanpa tuan Mahmed jawab pun, Jian bisa menebak apa yang akan atau mungkin sedang terjadi di istana. Batin Jian bergejolak, segera saja lelaki berbadan tegap itu meminta izin pada tuannya dengan alasan ada sedikit keperluan.

Langkah Jian begitu tergesa menuju istana. Hanya satu tujuannya, ingin mengetahui apakah sang raja, penyelamat hidupnya baik-baik saja? Penolong dirinya sewaktu terdampar di laut Glenvons Tides.

Tidak seorang pun yang mengetahui latar belakang lelaki ini, termasuk sang raja. Bahkan, saat raja memberikan kepercayaannya kepada Jian, mulutnya seolah terkunci untuk menceritakan siapa dia sebenarnya. Biarlah, dirinya merasa nyaman dengan keadaan seperti ini.

Tidaklah susah bagi Jian untuk memasuki istana megah tersebut, sekalipun tidak menetap di dalam istana.

"Hamba ... hanya ingin hidup menjadi rakyat biasa, Baginda. Walaupun hamba tinggal di luar sana, hidup ini siap hamba pertaruhkan kepada Engkau." Begitulah jawaban jumawa dari Jian, saat raja memintanya untuk menetap di dalam istana.

Pikiran yang sedang berkelana, membuyarkan sedikit fokus Jian saat masih berlari-lari kecil menuju ruangan raja. Hampir saja pemuda itu menubruk seseorang yang juga hendak memasuki ruangan raja.

Sigap, kedua tangannya meraih apa saja sebagai pegangan agar tidak menimpa yang ternyata putri mahkota. Tangan kekar itu akhirnya bertumpu pada tiang di sisi pintu ruangan yang hendak mereka masuki.

Netra keduanya sama-sama membesar. Jian yang terkejut menatap wajah yang tepat di samping lengan besarnya, dan sang putri yang syok melihat tanda lahir di tangan kanan tersebut.

Tatapan Sofija beralih ke wajah si pemilik tangan. Sorot mata yang tadi tampak terkejut, perlahan berubah setelah tahu siapa pemilik lengan bertanda lahir tersebut.

Jian tampak sangat heran melihat tingkah sang Putri, tapi dia sadar diri, memilih mengikuti Sofija ke dalam ruangan raja, daripada memenuhi rasa penasaran.

"Anakku, duduklah di sini." Sambut sang Raja menepuk-nepuk bangku di sebelahnya.

"Wah, kebetulan sekali. Jian, silahkan ...." lanjut sang Raja saat melihat seseorang mengikuti putrinya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Sebelumnya, perkenalkan, hamba Kim Xander, Pangeran dari Negeri Selatan." Pemuda yang sedari tadi sudah bersama sang Raja, berdiri dari tempat duduknya. Sedikit membungkuk ke arah putri mahkota, dengan tangan di dada memperkenalkan diri.

Tidak hanya mata lentik sang putri yang membola, sepasang mata di balik pintu ruangan raja pun membesar seolah lepas dari kelopaknya.

Pemilik mata indah itu terdiam. Matanya menatap tajam ke arah pemuda itu. Dalam hitungan detik, dia kembali tersadar dan mulai melepaskan nafas yang sempat tertahan di parunya, sambil bergumam pelan, "Dia ...."

Begitu tahu nama itulah yang sering ada di dalam mimpinya, Sofija segera mengendalikan diri. Mendengar dengan seksama pembicaraan di ruangan raja, berharap bisa mendapat pencerahan, siapa dan dari mana pemuda tampan itu?

"Jadi, apa tujuanmu menemuiku, Kim Xander?" Raja bertanya dengan suara tegasnya.

"Maksud kedatangan hamba ke istana ini adalah, ingin melamar Putri Sofija untuk menjadi pendamping hamba," kata pemuda tersebut dengan penuh percaya diri.

Dia terus melanjutkan perkenalan tentang dirinya dan menceritakan berbagai peperangan yang pernah dimenangkannya sambil sesekali melirik Sofija yang berada di sisi sang Ayah.

Sang raja tentu saja senang ada pangeran ke-12 yang melamar putrinya. Namun, dia tidak mau gegabah, ia ingin menguji sejauh mana pangeran mau berkorban untuk Putri Sofija.

Sebelum mengumpulkan para penasihatnya untuk berunding, raja memerintahkan pengawal mengantarkan Kim Xander untuk beristirahat dari lelahnya karena perjalanan yang dilakukannya menuju Kerajaan Anantessa.

Pangeran itu berjalan mengikuti arahan pengawal, diikuti tatapan menyelidik Jian yang sejak tadi sudah berdiri di dekat raja. Kemudian tatapan itu melembut, beralih ke arah sang putri.

"Jaga tatapanmu, Jian." Peringatan Sofija membuat kepala pemuda itu tertunduk.

"Maaf, Tuan Putri," ucapnya sedikit salah tingkah ketahuan mencuri pandang.

Sementara itu, di balik pintu luar ruang singgasana raja, sepasang netra penuh kelicikkan mengikuti tubuh pangeran yang menghilang ke arah kamar tamu istana. "Jika benar dia adalah Kim Xander, aku harus bergerak sekarang juga."

*** bersambung ***